Coretan tinta hitam

Saturday, 12 November 2016

Pokemon Fusion: EEVEE SQUAD! #GiveawaySejutaViews





TENTANG AKU DAN PIKACHU


Tahun
2000 an Pokemon itu ada, dulu aku liat di salah satu station TV swasta, boleh
sebut merek  kagak? Kalau enggak salah
Indosiar, dari sanalah aku dan Pikachu kenalan #ahaay. Dari awal liat Pokemon
sudah suka sama Pikachu, saking demennya sama Pikachu saya sampai koleksi apa
pun yang ada Pikachunya. Mulai dari buku tulis dengan cover Pikachu, terus
kaos dan baju yang bergambar Pikachu sampai celana dalam bergambar Pikachu. Ada
kejadian lucu saat itu, aku punya keponakan saat itu usianya 2 tahunan ( dia
sekarang sudah SMK kelas 2) nah dia punya boneka Pikachu, sebenarnya bukan
boneka sih tapi kayak balon yang bisa bunyi terus bisa duduk Cuma bentuknya
kayak Pikachu. Nah saking sukanya aku sama Pokemon listrik ini, sampai-sampai
aku rebutan boneka itu sama ponakan yang usianya 2 tahun padahal saat itu aku
sudah kelas 5 SD. Cuma dulu tidak sebooming sekarang, karena kecanggihan teknologi
sekarang kita bisa main dengan Pokemon seperti realita saja. Sayangnya aku
enggak punya aplikasinya T_T eh tunggu itu bukan karena aku sudah berpaling
dari Pokemon, tapi karena hp android ku enggak suport untuk main Pokemon, tapi
tenang sejak ada Channel Bang Roll yang ketceh badai, tidak perlu sedih lagi
karena di channel bang Roll disediakan all about Pokemon Go yang lagi heboh. Ya
sih semoga Pokemon Go tetap heboh meski di tv udah keselip sama Dimas kanjeng
dan AA Gatot tapi ngomong-ngomong soal Dimas kanjeng aku mau lah gandai Pokemon
biar banyak #buagh XD



Ahh back to Pokemon,
sayangnya semua koleksi saya yang seabrek hilang keseret longsor waktu itu
#hiks T_T tinggallah kenangan saja antara aku dan celana dalam motif Pikachu eh
tentang koleksi Pikachu yang entah kemana ngilang terseret awan kelabu #ea kok
jadi baper ya :3 . Tapi sampai saat ini aku sudah menikah, masih cintaku pada
Pikachu tidak pudar #Ea ... malahan kalau tidak diprotes sama Enyak Babeh pas nikahkan
tadinya aku mau minta mas kawin boneka Pikachu super guede, kan jarang-jarang
orang nikah mas kawinnya Pikachu. Lucu aja gitu pas ijab kabul,”Saya terima
nikahnya Fulanalah binti Fulan dengan mas kawin Boneka Pikachu dibayar kredit!”
huwaa jangan harap pemirsa sudah pasti itu Cuma ada di fiksi karangan saya :v atau
bisa juga dibaca ide saya dipraktekkan sama kalian semua yang berencana nikah
tahun ini, iya kalian ^_^ mungkin saja habis itu jadi pasangan fenomenal dan
masuk channelnya Bang Roll #Eaa :v atau Bang Roll mau coba ?



Itulah cerita aku dengan
Pikachu semoga menghibur XD ahhh tapi baru-baru ini saya kesengsem mau cat bulu
kucing saya kayak Pikachu #meooow XD.

Thursday, 30 June 2016

Korupsi Narkoba Stop!

Korupsi Narkoba stop!

Kemana perginya hati nurani?
Otakmu pun telah dikuasi materi
Rela korbankan rakyat dan negeri untuk membeli Lamborghini
Pantaskah kau duduk di kursi pejabat dan tertawa berseri?!
Setelah kau sakiti seluruh rakyat negeri dengan ambisi! Sampai kapan?
Indonesiaku  menangis karena terjajah tikus-tikus berdasi

lalu,

Negeriku menangis meratapi diri, karena
Anak-anak bangsa mulai teracuni.
Remaja penerus terkotori heroin dan ekstasi,
Kemanakah moral yang harusnya dijunjung tinggi? Sedangkan,
Obat-obatan terlarang mulai menguasi dan membuat lupa diri.
Bagaimana? Kita 'kan bangun tanah pertiwi! Jika,
Anak-anak dan remaja harapan bangsa sudah tidak peduli diri sendiri apalagi negeri?!

Sekarang, marilah kita sayangi diri dan negeri warisan ibu pertiwi.
Tanamkan rasa nasionalisme dalam diri, katakanlah tidak pada
Obat terlarang dan korupsi, karena hanya
Pada pundak kitalah kan berjaya negeri ini.

Semua akan pulang

Semua pasti pulang

oleh: Irna

Segala harta, tahta, dan cinta
yang membuatmu lupa pada-Nya
Segala tubuh kuat bak besi baja
yang membuatmu menindas sesama
Segala apa yang kau punya
pasti 'kan hilang pada waktunya

Detik waktu kian memburu
Namun tubuh masih berburu mengejar nafsu
tak peduli pada kata habis waktu
meski bulan berganti tahun dan sudah dekat dengan masa mu

Lihatlah di sana
hamparan tanah bergunduk merah bertabur bunga
kita pun 'kan ada disana hari ini atau lusa
sudahkah kita mempersiapkan bekalnya?
sedangkan diri hanya sibuk menumpuk dosa
taukah kamu jika berada di dalamnya?
hanya ada 6 pertanyaan yang mudah tapi tak 'kan bisa kau menjawabnya
Tidak! bukan harta dan tahta yang mereka tanya,
Man Rabbuka?
Man Nabiyukka?
Man Dinuka?
Man Imamuka?
Aina Qiblatuka?
Man Ikhwanuka?
Bisakah kau menjawabnya?
Jika hari-harimu sibuk mengejar harta?
bisakah kau menjawabnya?
Jika detik waktu kau habiskan hanya mencari muka?
bisakah kau menjawabnya?
Ketika saudara seiman seagamamu terluka dan menahan lapar di perutnya,
kau sibuk pontang-panting mencari tahta?

Tidakah kau sadar wahai kawanku
tak akan selamanya raga ini menjagamu
semua akan rapuh dan perlahan runtuh
Semua akan berpulang pada asalnya
semua akan hilang untuk selamanya
karena kita adalah milik-Nya
dan kelak 'kan kembali pula pada-Nya

Kuningan,01-07-16

Wednesday, 18 May 2016

Manuk wik wik

Manuk Wik-wik

"Teteh ..., Teh Euis!" Ujang berlari-lari di pematang sawah, tidak peduli kakinya yang belepotan oleh tanah sawah yang becek. Napasnya tersengal-sengal tapi kabar yang harus disampaikan pada kakak perempuannya itu sangat penting. Euis yang sedang menjalankan pekerjaan 'ngarit' merasa terganggu lalu menoleh dilihatnya wajah sang adik begitu cemas.

"Aya naon, Jang?! Rusuh kitu?" ujar Euis menatap sang adik yang sedang mengatur napas akibat kecapekan berlari.

"Emak ..., Emak pingsan Teh. Ujang enggak tau kenapa, Ujang baru pulang sekolah, si Emak sudah dikerumuni warga." Euis menghentikan pekerjaanya, segera ia berlari menuju rumahnya. Karung dan sabit yang ia gunakan untuk 'ngarit' pun ia tinggalkan. Hatinya mendadak cemas pada Emak yang akhir-akhir ini kesehatanya memburuk, Ujang menyusul di belakangnya membawa barang-barang yang ditinggalkan Euis. Tidak berapa lama Euis sampai di rumahnya, terlihat mamang dan bibi sedang memberi minum Emak, Euis langsung menghambur ke pelukan Emak.

"Emak, kunaon emak teh geuning kieu. Bi kunon emak, Bi?" wajah cantik gadis berumur dua puluh tahun itu tampak khawatir dengan keadaan Emaknya. Bibi melirik Mang Soleh, lalu menarik tangan Euis ke dapur. Karena disana banyak tetangga, sepertinya yang akan disampaikan Bi Ning sangat rahasia dan penting.

"Aya naon atuh, Bi. Cerita saja sama Euis," ujar Euis menatap Bi Ning

"Euis, tadi sebelum emak pingsan. Bapak kamu teh datang marah-marah, minta uang sama emak. Tapi sama emak teu dibere, bapak kamu teh ...." Bi Ning menghela napas sebentar," Bapak kamu mau nikah lagi Euis. Sama janda di desa sebelah, sing sabar nya geulis," Euis mengepalkan tangannya kesal. Apa mau bapaknya itu. Padahal Emak sedang sakit, bapak malah membuat Emak tambah sakit. Euis benci pada bapaknya, kalau saja membunuh itu tidak dosa, ingin rasanya Euis membunuh bapaknya. Yang selalu menyakiti Emak, setiap hari hanya minum-minum dan berjudi. Lalu sekarang mau nikah lagi, Euis sangat benci pada bapaknya yang sebulan lalu hampir menjualnya pada lelaki hidung belang.

"Tadi sempet cekcok sama Mamang kamu. Tapi bapak kamu teh malah ngancam sama mamang sama bibi," ujar Bi Ning.

"Euis bener-bener benci sama bapak. Euis benci punya bapak seperti dia!" ujar Euis, tak terasa airmata menggenang di pelupuk matanya. Rasa sesak dan sakit di dadanya terasa menjadi-jadi. Belum sembuh lukanya sebulan lalu sekarang bertambah,

Seminggu berlalu, kesehatan Emak semakin memburuk. Setiap hari mengigau menyebut nama bapak Euis. Euis heran pada Emak, bapak begitu kejam dan sering menyakitinya namun, entah kenapa Emak sangat mencintai bapak. Emak tidak pernah menjelek-jelekan bapak di depan Ujang atau Euis, Emak juga tidak pernah mengajarkan anak-anaknya untuk membenci bapak.

"Euis ..., mana bapak? Euis geura teangan bapak," Emak bergumam. Bidan sudah dipanggil oleh Bi Ning tapi Emak menolak makan obat atau pun dirawat di rumah sakit. Emak terus-terusan memanggil bapak, perasaan Euis semakin tidak menentu, Euis takut kehilangan Emak.

"Wik-wik-wik-wik" suara burung diatas pohon randu di dekat rumah Euis. Orang-orang percaya jika ada burung  Wik-wik tanda jika rumah tersebut akan dirundung duka, akan ada salah satu kerabat atau anggota keluarga penghuni rumah yang meninggal. Hati Euis ketar-ketir, takut kehilangan Emak. Euis benci pada bapaknya, yang tidak pulang-pulang. Mang Soleh kesana-kemari mencari bapak, tapi tetap saja belum membuahkan hasil. Euis beranjak dari duduknya, mengambil batu di depan rumah dan melemparkannya ke arah burung Wik-wik. Burung Wik-wik terusik lalu terbang, Euis merasa burung itu mengejeknya. Euis kembali meraih batu-batu kerikil dan mengejar burung Wik-wik.

"Hush! Indit siah! Indit!" teriak Euis seperti kerasukan, bayangan masa lalu melintas di kepalanya saat bapak memukul Emak. Euis semakin murka, dilemparinya terus sang burung Wik-wik tidak peduli hujan yang deras jatuh membasahi bumi. Tidak peduli halilintar yang saling bersahutan menghiasi langit yang mencekam, angin kencang membuat pohon-pohon tidak tenang, Euis terus berlari tidak peduli suara Ujang dan Bi Ning yang mulai terdengar samar menyebut namanya, Euis benci bapak, Euis benci hidupnya.

"Indit! Indit siah!" Euis berkomat-kamit mengucapkan sumpah serapahnya, Euis sama sekali tidak peduli sebuah pohon besar tersambar petir dan tubang ke arahnya.

Duka menyelubungi keluarga Mak Ijah. Seminggu setelah meninggalnya Euis Prameswari akibat tertimpa pohon. Mak Ijah pun menghembuskan napas terakhirnya, Ujang kini sendirian. Emak tiada kakaknya pun sama, Ujang menangis tersedu-sedu di hadapan pusara Emak dan kakaknya, Mang Soleh dan Bi Ning disampingnya berusaha memberi secerah harapan dan motivasi pada  bocah berumur sepuluh tahun itu. Ujang ingat pesan terakhir Emak sebelum meninggal,"Jang ..., kalau suatu saat nanti bapak kamu pulang. Ulah dicarekan ku Ujang. Bagaimana pun juga dia teh tetep bapak Ujang sama teh Euis, kalau tidak ada bapak Ujang sama teteh tidak akan ada. Peupeujeuh kasep sing pinter, sing soleh, sing jadi jalma bener. Burung palung oge bapak hidep," nasehat emak terngiang di telinga Ujang.

Ujang mengakhiri solatnya dengan berdoa untuk almarhum Emak dan kakaknya  tidak lupa untuk bapaknya. Ujang dirawat oleh Bi Ning hingga sekarang sudah sarjana dan hidupnya lebih baik dengan menjadi insinyur pertanian.

"Jang, mau jenguk bapak lagi?" tanya Bi Ning saat Ujang berkemas rapi.

"Iya, Bi. Ujang teh pamit ya, Bi." Ujang mencium tangan Bi Ning. Bi Ning bangga pada anak angkatnya berkat kecerdasanya kini sudah jadi insinyur. Ujang melangkahkan kaki lalu menstater motornya menuju rumah sakit jiwa tempat bapaknya kini berada.

Kuningan,23 April 2016

Wednesday, 7 October 2015

Aku, Kamu, Dia

Aku, Kamu, dan Dia

By; Irma putri syaepudin

Ini begitu salah tapi ini juga begitu benar untuk aku yang dilanda cintamu yang terus memenjaraku...  Cintamu yang akhirnya membunuhku.

   "Cie ... pasangan baru cie ...," ujar kak Iman yang asyik bermain game Hay day nya sesaat dia keluar dari gamenya saat melihat pasangan baru itu Widya dan Mus. Aku dongkol melihat mereka mengumbar kemesraan di hadapan kami. Mereka saling bertatap muka melempar senyum manis dan saling memuji keindahan wajah masing-masing, meskipun kantin kampus sedang penuh dengan mahasiswa dan mahasiswi yang hendak makan siang. Mereka tetap asyik saling suap-suapan mie ayam, sumpah hatiku hancur melihat Mus dan Widya, sejak lama aku menaruh perhatian pada Mus, aku menyukainya sejak kami masuk universitas ini sama-sama dia baik dan sangat setia kawan. Yah, setidaknya itu yang dia katakan padaku jika aku kawan terbaiknya, bahkan saat aku menyukainya aku enggan mengungkapkan perasaan itu karena takut menghancurkan persahabatan kami. Tapi saat aku mempunyai cukup kepercayaan diri untuk mengutarakan isi hatiku saat itulah aku melihatnya memeluk Widya di depan kampus saat istirahat membuat kegaduhan seluruh kampus. Aku benci dengan hatiku dengan diriku yang terlalu kikuk ssaat bersama-sama dengannya hingga susah untuk aku mengutarakan isi hatiku pada Mus.

"Siang-siang begini melamun enggak baik loh, ayam tetangga saya mati kemarin gegara kebanyakan melamun," Bu Kantin membuat semua lamunanku buyar, aku hanya tersenyum terpaksa, Mus dan Widya sama-sama melihatku dan menertawakan aku. Ingin rasanya aku marah tapi  aku memilih diam dan membuka layar tablet kesayangan membuka aplikasi game Hay day yang sering aku mainkan.

"Cie, mending kalian pacaran deh, iya kan sayang? Kak Iman dan Rima sangat cocok pacaran, lihat saja mereka menyukai game yang sama berlomba-lomba menjadi petani sukses, " ujar Mus sambil tertawa terbahak-bahak. Widya pun mengiyakan perkataan kekasihnya. Kak Iman berhenti menatap layar handphone nya lalu menimpali perkataan Mus, "Ah, kamu ini bisa saja Mus, jangan buat dia marah loh, " kata Kak Iman. Lalu mereka bertiga tertawa bersama, aku segera mengambil tas selempang yang sejak tadi kusimpan di bawah kursi.

"Permisi, aku pulang duluan, " ujarku sambil berlalu dari hadapan mereka, aku menyembunyikan kekesalan dan rasa sakit hatiku, mataku terasa panas dan mulai berair. Aku benci dengan diriku sendiri, betapa lemahnya aku hingga harus meneteskan air mata untuk orang sepertinya. Seenaknya saja dia menjodohkan aku dengan Kak Iman, memangnya siapa dia?! Aku mendengar suara Kak Iman memanggil namaku dan menyuruh berhenti.

"Rima, jangan marah ..., Mus hanya bercanda! Mau kemana biar aku antar kamu pulang, " ujarnya yang kini sudah berada di hadapanku, dia seorang yang jago dalam bidang olahraga apapun dia favorit para mahasiswi dan juga dosen. Dia pintar dan juga menyenangkan, dia lebih tua 1 tahun dariku, dan dia mahasiswa senior masih saudaranya Mus, dia dan Mus akrab sejak kecil itu yang aku tahu tentang Kak Iman.

"Rim, kamu nangis? Kenapa? Oh ayolah Mus hanya bercanda jangan dipakai hati, mari aku antar kamu pulang, " ujarnya lagi sambil meraih ytangan kananku, aku berhenti berjalan dan tetap menundukkan kepala,"Lepaskan tanganku Kak, aku menangis bukan karena Mus. Sudahlah Kak, aku ingin pulang pulang," ujarku sambil melepaskan genggaman tangannya.

"Kali ini saja Rim, izinkan aku mengantar kamu pulang, aku tau semuanya tentang kamu dan perasaan kamu pada Mus, " Kak Iman mencegat jalanku. Aku menatap mata Kak Iman berharap matanya bukan tatapan mata serius tapi yang kulihat memang sepertinya dia mengetahui semuanya bahkan tentang perasaan selama ini pada Mus. Akhirnya aku menurut pada Kak Iman, dia mengantarkan aku pulang dengan mobil Mazda birunya, selama perjalanan aku memilih diam dan menatap ke luar jendela mobil pikiran dan jiwaku melayang jauh entah kemana.

"Aku tau kamu menyukai Mus, yah dia memang tampan dan menarik, iya kan Rima? Tanyanya padaku, aku mengabaikan ucapannya.

"Hmm, sampai kapan kamu galau dan menyimpan segala kekesalanmu pada Mus. Kenapa tidak diungkapkan bahwa kamu menyukainya?" Ujar Kak Iman lagi.

"Aku tidak mempunyai cukup keberanian untuk itu. Lagipula untuk apa aku mengutarakan perasaanku padanya, bukankah sudah terlambat toh dia sudah menjadi milik Widya, " ujarku sakratis. Kak Iman tersenyum simpul memperlihatkan lesung pipit di kedua pipinya. Sungguh mahluk ciptaan Tuhan yang sempurna, pantas saja dia jadi mahasiswa favorit. Dia memang pantas mendapatkan julukan Arjuna kelas sastra di  kampus kami. Lalu di kelasku ada Mus yang mendapatkan julukan Arjuna kelas Ekonomi, sekarang ditambah lagi Widya yang yang jadi primadona dan pasangan si Arjuna ini. Sampai mereka dapat julukan the romeo and juliet. Mengingat Mus dan Widya hatiku hancur lagi, sampai aku tidak mendengar Kak Iman memanggil namaku. Lalu dia menepuk pundakku hingga terlonjak.

"Ayo turun, melamun terus ..., akan kuberi tahu tau cara melupakan Mus, "ujarnya. Dia turun dari mobilnya begitu juga denganku meskipun tidak tahu mau kemana. Dia membawaku ke tepi sebuah danau. Lalu dia merentangkan tangannya dan berteriak sekeras mungkin.

"Ayolah, coba kamu lakukan seperti aku tadi selepas mungkin . Lepaskan segala apa yang ada di dalam hatimu, " ujarnya. Aku diam, lalu Kak Iman menarik tangan kananku dan menyuruh melakukan hal yang sama seperti apa yang dia lakukan barusan. Aku pun menuruti ucapan Kak Iman, aku merentangkan kedua tanganku dan berteriak sekeras mungkin melepaskan segala keresahan yang ada di dalam hatiku. Kak Iman melihatku lalu tersenyum, "Terus Rim, buang segala rasa kesal yang ada di dalam hatimu, " ujarnya. Perasaanku terasa jauh lebih baik, aku terduduk di rumput tepi danau dan menangis tidak peduli Kak Iman menatapku, aku menangis sepuasnya.

"Kamu Buang -buang energi menangisinya." Ujar Kak Iman pandangannya jauh menatap air danau yang jernih.

"Aku tau, aku bodoh ..., aku lemah dan tidak populer seperti Widya. Aku tau aku ini tidak sesempurna Widya, " ujarku sambil terisak, segala rasa sesak dan sakit menggelayut di hatiku. Kak Iman tertawa kecil lalu melempar beberapa kerikil ke danau membuat air danau beriak.

"Makanya Mus lebih memilih Widya, dia cantik populer, juara karate, tentu saja Mus memilih dia, " perkataan Kak Iman membuat hatiku semakin dongkol, 'Apa-apaan itu' batinku. Kak Iman lalu duduk di sampingku, "Oleh karena itulah aku ingin berada terus di sampingmu. Karena kamu lemah aku ingin melindungimu, tidak peduli kamu populer atau tidak itu tidak penting buatku, " ujarnya membuat mataku terbulat lebar dan menghentikan tangisanku. Jantung terasa berdetak kencang dua kali lipat .

"Untuk apa sempurna, cinta itu ada untuk menyempurnakan. Untuk apa populer toh kita bukan artis yang selalu setiap detik diiringi paparazi. Sejak awal aku melihat kamu masuk universitas, hatiku sudah terpaut oleh keanggunanmu, kamu yang lugu bahkan aku tau kamu menyembunyikan perasaanmu pada Mus. Kamu seperti buku yang terbuka lebar mudah ditebak mudah dibaca apa yang ada di dalam hati kamu, " ujar Kak Iman lagi kini dia menatap mataku, mata kami bersirobok aku melihat cahaya ketulusan di bola mata cokelatnya.

"A-apa maksud Kaka? " ujarku terbata. Dia meraih kedua tanganku, "Dengar aku akan membuat kamu melupakanya, aku akan membantu kamu menghapus semua angan tentang Mus. Aku Iman nurhalim yang akan mencintaimu hidup dan mati, berikan aku kesempatan Rima, " ujarnya.

"T-tapi bagaimana caranya? " ujarku masih tidak percaya dengan apa yang aku dengar, hatiku terasa kalut. Jantungku berdebar melihat Kak Iman mendekati wajahku, sekilas namun berarti dia mencium keningku.

"Aku tidak akan memaksakan kehendak padamu. Hanya saja biarkan waktu yang akan menjawabnya, aku yakin kamu bisa berpaling padaku dan melupakannya. Rima, aku akan selalu menunggumu ," ucapnya.
Gelenyar rasa hangat dan nyaman menyelimuti seluruh hatiku, belum pernah aku merasa sehangat ini bersama seorang laki-laki, ini berbeda dengan perasaan saat aku berada bersama Mus. Ini perasaan yang jauh luar biasa, aku benar-benar merasa hangat dan nyaman. Aku menarik napas panjang dan menatap Kak Iman.

"Kalau begitu bantu aku melupakanya, sihir aku agar aku bisa berpaling padamu Kak, " ujarku membuat mata Kak Iman berbinar.

  "As your wish, " ucapnya sambil tersenyum manis dan menggenggam tanganku erat, hangat.







Kuningan, 07/10/2015


Monday, 5 October 2015

Mask

Mask

Oleh:  Irma putri syaepudin aka kelelawar absurd


Menyebalkan! Mereka tertawa melihat tubuhku berlumuran lumpur yang baunya melebihi timbunan busuk. Mereka tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk padaku sepertinya mempermainkan seseorang merupakan hiburan yang memuaskan hati mereka semua, perlahan aku bangkit dari kubangan lumpur menjijikkan itu.

"Mau kemana hei bocah kecil! Apa mau mengadu pada ibumu?! Ow, aku takut sekali owh," Kemal. Berlaga ketakutan padahal dalam hatinya sedang bersorak gembira melihat aku terjatuh tadi ke kubangan lumpur menjijikkan setelah dia dan kedua sahabatnya menakutiku dengan pocong - pocongan. Mereka tahu aku penakut, besok ada pesta Halloween di sekolah makanya mereka mempersiapkan ini dari awal sengaja membuatku malu. Dan apa katanya bocah kecil? Aku gadis berusia 17 tahun, aku memang pendek dtapi bukan berarti seenaknya menyebut bocah kecil. Aku benar-benar benci pada Kemal, setiap hari seperti tidak ada pekerjaan selain menjahiliku. Ini tidak bisa dibiarkan! Aku juga harus membuatnya ketakutan dan terkencing di celana besok malam Ya, harus!

Jalanan kota Jakarta mulai macet, ini sudah pukul setengah sepuluh malam. Aku memutuskan mencari bahan untuk kostumku besok. Toko topeng menjadi pilihan, aku menyuruh Mang Kasim supirku berhenti di sebuah toko penjual berbagai macam aksesoris untuk Hallowen. Sepertinya penjaga toko itu sedang bersiap menutup tokonya, "Permisi, bisakah anda membuka tokonya kembali saya butuh beberapa aksesoris untuk Hallowen besok, " ujarku. Orang itu menghisap rokok dan membuangnya meskipun rokok itu masih panjang. Sepertinya dia tahu aku tidak suka dengan asap rokok, dia tampak berpikir sejenak sebelum membuka kembali pintu toko yang baru saja dikunci tanpa berkata apapun. Aku lega akhirnya bisa membeli aksesoris yang aku butuhkan untuk menghancurkan reputasi Kemal besok malam.

"Cepatlah nona kecil, aku harus segera pulang ke rumah, " ucap penjaga toko itu sambil duduk di kursinya. Aku mulai mencari sesuatu yang bisa membuat Kemal takut, tetapi alih-alih aku membeli malah ketakutan sendiri melihat kostum Halloween itu. Tiba di jejeran topeng aku melihat satu topeng kulit yang menyeramkan. Topeng itu berbeda dari yang lainnya, topeng kulit itu seperti hidup dan bernapas. Topeng itu seperti menyuruhku menyentuhnya, tangan kananku terjulur hendak menyentuh topeng kulit itu namun, sebuah tepukan keras mendarat di pundakku.

"Sudah dapat apa yang kau cari Nona kecil? " tanya penjaga toko itu yang hampir saja membuat jantungku copot dari rongganya.

"Y-ya, sepertinya sudah, aku ingin membeli topeng ini, " tunjukku pada topeng kulit di depan. Penjaga toko itu mendelik tidak suka," Tidak bisa Nona, topeng itu tidak kujual sebaiknya cari yang lain saja," ujarnya.

"Kalau tidak dijual untuk apa dipajang? Aku mohon berapa pun akan kubayar," ujarku mengambil dompet dari tas slempang dan mengambil beberapa uang ratusan ribu , aku korbankan uang jajan 1 bulan demi topeng ini . Penjual mengernyitkan dahi lalu menghembuskan napas keras ke udara.

"Baiklah jika kau memaksa, ambil saja itu gratis untukmu. Sepertinya topeng itu mau kau memilikinya Nona kecil, " ujarnya . Betapa bahagianya aku gratis katanya? Eh bukannya tadi dia enggan menjual topeng ini lalu, kenapa sekarang malah gratis? Ah aku tidak peduli yang penting aku yakin topeng ini bisa membuat Kemal ketakutan besok malam. Aku segera memasukan topeng itu ke dalam tas, sebelum aku melangkah meninggalkan toko itu si penjaga toko mengatakan sesuatu padaku.

"Hei, Nona kecil berhati -hatilah memakai topeng itu, topeng itu seperti benalu yang akan menempel dan tidak bisa dilepas, " ujarnya. Namun, aku tidak peduli apapun kata penjaga toko itu, yang penting aku bisa membalas dendam pada Kemal dan sahabatnya.

***
Malam Hallowen yang kutunggu tiba, aku sudah bersiap dengan kostum ala phantom dan topeng kulit pemberian si penjual toko. Sesaat setelah aku memakai topeng itu kepercayaan diri yang selama ini hilang entah kemana muncul. Aku yang biasanya pemalu hingga mendapatkan julukan 'Siput' dari Kemal pun merasa diriku adalah seorang yang terbaik malam ini. Semua orang memandangi diriku, entah karena apa aura yang kupancarkan setelah memakai topeng itu, mereka menatapku dengan tatapan takut seperti melihat sosok mmalaikat pencabut nyawa saja. Dan entah mengapa aku merasa malam ini aku bisa membuat Kemal ketakutan dan terkencing di celana bahkan mungkin lebih.

     "Lihat dia! Bukankah selama ini dia selalu membuatmu menangis? Untuk apa kau membuatnya hanya terkencing di celana ketakutan? Kau bisa melakukan lebih baik daripada itu. Misalnya menyingkirkannya ? "  topeng itu seperti memberikan ide bagus padaku, ya betul menyingkirkan babi gendut itu dari hadapanku untuk selamanya. Aku tersenyum lebar di balik topeng, Kemal terlihat berlari ke lantai  tiga gedung sekolah sepertinya dia hendak masuk kelas mungkin barangnya ketinggalan di kelas. Ini kesempatan emas untukku. Benar saja Kemal sedang melakukan sesuatu di kelas dia sedang melumuri kursi seseorang dengan cairan menjijikkan. Aku tahu itu bangku si murid baru yang memakai kacamata tebal, sama seperti aku dia kerap menjadi bulan -bulanan si babi gendut itu. Aku melangkah mendekati Kemal, kutepuk pundaknya dari belakang, dia tampak kaget saat melihatku. Lalu dia pura-pura tenang padahal sudah jelas aku melihat sorot ketakutan dari matanya.

"Kau mau apa? Kau pikir aku takut padamu?! Pergi sana jangan mengacaukan pekerjaanku," hardiknya. Aku menarik tangannya agar dia menatap mataku,"Tatap mataku! " ujarku lalu entah kekuatan darimana mata Kemal berubah menjadi merah. Padahal hatiku tidak tidak ingin mengatakan hal itu entah dorongan dari apa aku seperti menghipnotis Kemal.

"Jalan dan loncatlah dari sana! " sekali lagi aku tidak bermaksud seperti itu tapi mulutku mengatakan hal itu pada Kemal. Seperti kerbau dicocok hidung Kemal menuruti perintah yang aku ucapkan, dia berjalan mendekati pembatas dan menaikinya. Lalu secepat kilat ia menjatuhkan dirinya ke lantai satu. Semua orang menjerit histeris melihat Kemal berlumuran darah. Setelah itu aku baru tersadar dari apa yang aku lakukan, aku panik dan berlari meninggalkan sekolah secepat yang aku bisa. Aku berusaha melepas topeng itu dari wajah ku tetapi topeng itu seperti diberi lem susah sekali aku lepaskan. Bagaimana ini? Aku sudah membunuh Kemal? Aku tidak mau memakai topeng ini! Tidak mau!


Selesai

Kuningan, 06 September 2015




Thursday, 1 October 2015

Cinta

Burung -burung camar
Sang mentari membuka mata
hangatnya teduhkan jiwa
jiwa yang kering kerontang merana
mendamba sentuhan sang pesona

Burung -burung camar menari
bernyanyi lagu pemikat hati
terbang di angkasa bagaikan peri
bawa asa-ku ke jantung matahari

Burung - burung camar bawa rinduku
jangan biarkan dia berlalu
jangan biarkan semua menjadi debu
jangan biarkan semua jadi serpihan masa lalu

Burung - burung camar kepakan sayapmu
pergilah bawa separuh cintaku
biarkan dia tau bahwa diriku tersiksa menahan rasa di kalbu
burung - burung camar sampaikan salamku
kini kusakit karena merindu  ....


Kuningan, 03/06/15

***
Dandelion

Aku hanya semak belukar
hanyalah sejumput rumput liar
tak harum seperti melati atau seindah bunga mawar

Kemana hembusan bayu menerbangkanku
kesanalah tubuhku pergi
dimana air mengalir dari hulu ke hilir
disanalah kan kurajut mimpi dan takdir

saat kecil aku dipangku ibu
sudah besar aku dihempas bayu
entah kemana dia kan membawa tubuhku
menjadi semak belukar atau kembali ke pangkuan ibu

aku Dandelion dari masa lalu
terbuang setelah gugur dicumbu
tergoda bujuk kumbang perayu
lalu terbang liar menjadi kupu-kupu
melayang di malam kelabu
menjadi pemikat hati yang dilanda rindu
melayani kumbang gila nafsu

Ah betapa aku rindu dekapan ibu  ....


Kuningan, 03/06/15

***

Definisi Cinta

Cinta adalah sebuah pohon
tumbuh dari benih bernama asmara
berdaun rimbun kerinduan
berbatang setia dan berbuah sayang
berbunga rasa cemburu dan sedikit egois
namun tetap kokoh dengan akar kejujuran
dan disirami dengan pupuk kepercayaan

Cinta hadirnya seperti petir
misterius seperti sihir
keberadaannya adalah takdir
menyingkirkan segala tabir
membuat insan tak dapat berpikir

Cinta berawal dari tatapan mata
merasuk ke dalam sanubari dan jiwa
menggetarkan segala rasa
Namun apabila nafsu ikut menyertainya
cinta entah kemana kan bermuara
terjaga dengan penuh bangga
ataukah ternodai dengan hina?

Cinta laksana api
membuat hangat atau bahkan menghanguskan
hadirkan berjuta ketenangan
namun perginya membuat keresahan

Kuningan, 03/06/15

***

Janji sekeping hati

Jiwa ini kering merana
terdampar dalam lautan bernama hampa
terjebak dalam puing -puing dosa
meninggalkan cinta yang menunggu dengan setia
dua orang saling membagi cinta
berjanji akan selamanya setia
seperti Shinta yang selalu menunggu datangnya Sri Rama

disana awal dan akhir dari mimpi
ketika saling menggenggam jari jemari
bertemu lalu saling berucap sehidup semati
meninggalkan kisah sekeping hati

mencintai sangat dalam
lalu janji hilang tertelan waktu dan alam
menunggu bisu di senja temaram
merindukan mata sekelam malam

sekeping hati kini hancur
menunggu kasih hingga ujur
waktu yang sudah habis terlanjur
tinggalah raga yang kaku terbujur
karena terlalu cinta lupa bersyukur
sekeping hati kini lebur


Kuningan, 03/06/15