Coretan tinta hitam

Wednesday, 19 August 2015

Slendrina

Parade horror

Slendrina

by: Irma

Selamat datang! Ini adalah game berbahaya, hanya yang bernyali yang bisa memainkanya, apakah anda siap?!

   Disana ada sebuah labirin kematian, sudah 3 orang temanku yang masuk kesana lalu belum kembali hingga sekarang, aku tidak tahu kenapa mereka mau mengikuti permainan konyol ini. Awalnya Anna yang mengajak kami berada disini. Dia menemukan sebuah peta harta karun secara tidak sengaja, yang menunjukan tempat aneh ini, sebuah labirin raksasa, kami penasaran dengan harta karun yang diceritakan Anna. Aku menolak ikut bersama mereka menelusuri labirin ,karena aku yakin ini hanya sebuah jebakan, tetapi mereka lebih mempercayai ucapan Anna yang begitu antusias dan yakin dengan harta karun itu. Lalu mereka menemukan petunjuk, jika ingin keluar dari labirin itu mereka harus menemukan sebuah kunci emas, Anna, Delon, dan Samuel telah masuk ke dalam labirin itu dan mereka belum kembali. Aku khawatir dan berniat mencari mereka, disinilah aku sekarang di depan sebuah pintu masuk menuju labirin raksasa yang gelap. Di hutan yang entah dimana, jauh dari jangkuan manusia. Aku sudah memantapkan hatiku ya aku sudah mantap!

    "Gelap sekali, kemana aku harus mencari Delon dan yang lain," ucapku sambil berjalan menyusuri lorong labirin dengan senter yang tidak lepas dari genggaman tanganku. Tembok-tembok labirin yang tua dan rapuh, berlumut dan banyak debu bertebaran membuat sesak. Aku melangkahkan kakiku perlahan, menyusuri lorong berharap bertemu salah satu dari sahabatku. Tetapi, satu yang mengganjal pikiran dan hatiku, sejak tadi aku melangkah aku merasa seseorang mengawasiku. Semakin lama semakin jauh, aku menemukan sebuah pintu kayu, lalu mendorongnya perlahan berharap menemukan salah satu sahabatku.

    "Anna? Kaukah itu? Anna kenapa kau berada disini? Mana yang lain?" tanyaku pada sosok perempuan dengan rambut panjang tergerai yang membelakangiku. Dari postur tubuhnya seperti Anna, tetapi dia memakai gaun putih. Sejak kapan Anna yang tomboy memakai gaun? Lalu aku mendekatinya memberanikan diri. Saat bersamaan dia memalingkan wajahnya, betapa kagetnya aku, dia bukan Anna sahabtku. Wajahnya rusak penuh luka, bola matanya seperti hendak keluar, mulutnya menganga mengeluarkan darah dan belatung. Lalu tanganya berusaha meraih leherku, dengan sekuat tenaga aku lari dari ruangan itu , aku harus menyelamatkan diriku. Tempat apa ini? Dan mahluk apa itu? Sahabatku, mereka ada dalam bahaya! Nafasku tersengal, aku terbatuk beberapa kali sambil mengatur nafasku yang hampir habis. Sudah sangat jauh dari tempat tadi , aku merasa sedikit lega karena mahluk mengerikan itu tidak mengejarku. Saat aku hendak melangkah, kakiku rasanya menginjak sesuatu,"Ini senter Delon! Lalu dimana dia sekarang? Aku yakin dia berada di sekitar sini." Lalu dengan langkah tergesa aku mencari keberadaan Delon, di sebuah tikungan aku menemukan lorong lain. Dan hatiku mengatakan aku harus kesana, aku memanggil nama Delon berharap dia membalas panggilanku. Tapi sudah sejauh ini aku tidak menemukan apapun, dimana Delon? Aku mulai putus asa, lalu tiba-tiba aku mendengar suara perempuan menangis. Dan aku yakin itu suara Anna, "Anna! Kau dimana!" teriakku.

     "Ella! Kau kah itu? Aku disini cepat tolong aku Ella!" sekarang semangatku kembali berkobar, Itu benar-benar suara Anna. Aku berlari dan saat aku melewati sebuah pintu, Anna sedang terbaring di lantai mengerang kesakitan. Kakinya terluka.

     "Anna! Kau kenapa? Kenapa bisa seperti ini? Astaga dimana yang lain?" tanyaku, aku membantunya berdiri. Anna meringis kesakitan,"Delon ... Dia sudah mati, Ella. Saat kami mencari kunci emas itu dia mati Ella, lalu Samuel ... Saat kami menemukan peti kayu, dan menemukan kunci emas itu, disana terdapat sebuah kertas mantera yang menyatakan siapapun yang masuk labirin ini tidak akan selamat," ucap Anna menahan sakit.

     "Dan kunci emas itu, adalah kunci kutukan. Siapapun yang menemukan kunci itu maka dia telah membangunkan Slendrina. Dia arwah penasaran Ella. Dan sekarang Samuel pergi setelah membunuh Delon," tangis Anna pun pecah, aku memeluknya.

     "Apa maksudmu?" tanyaku.

      "Setelah menemukan kunci itu, Samuel seperti kerasukan. Dia membunuh Delon dengan pisaunya, dan ingin membunuhku. Namun, aku berhasil kabur. Aku yakin kunci itu jalan keluarnya, kita harus mencari Samuel, " ujar Anna. Permainan gila apa ini? Akhirnya aku dan Anna melanjutkan perjalanan mencari Samuel. Sesekali Anna terjatuh karena kakiknya terluka parah, saat langkah kami semakin jauh, kami berhenti di sebuah persimpangan, lalu kami memilih jalur Kanan, berharap menemukan pintu keluar, namun hasilnya nihil. Akhirnya kami kembali dan memilih jalur kiri, disana kami menemukan setitik cahaya, dan kami yakin disana pintu keluarnya. Tapi, sebelum kami menjangkau tempat itu, Samuel sudah berdiri memegang sebuah kapak. Matanya nyalang menatap kami berdua.

     "Kau tidak akan bisa keluar dari tempat ini!" ujarnya, Samuel menyerang kami tiba-tiba. Anna dan aku terpaksa terpisah, aku berusaha menyelamatkan diri begitu pun Anna.

     "Sam! Hentikan!" teriakku. Namun Samuel seperti sudah tertutup hatinya ia terus berusaha membunuh aku dan Anna. Anna melawan Sam dengan sekuat tenaga ia memukul Sam dengan tasnya. Isi tasnya berhamburan, Anna jago bela diri, meskipun kakiknya sakit ia menendang Samuel hingga terjatuh dan kapaknya terlepas, lalu dengan sigap aku mengambil kapaknya.

     "Bunuh dia Ella! Ambil kuncinya!" teriak Anna.

      "Tidak Anna! Sam sahabat kita," ujarku. Sam berusaha terbangun dari jatuhnya. Anna merampas kapak itu dari tanganku, dan secepat kilat ia mengayunkannya pada Sam, kepalanya terbelah dua, aku menjerit. Anna bersimbah darah, lalu Anna mengambil sebuah kunci emas dari saku baju Samuel.

     "Tidak! Anna jangan sentuh kunci itu!" teriakku, namun terlambat Anna sudah menggenggam kunci itu. Anna berteriak keras, lalu badanya bergetar, Anna menatap tajam padaku, tatapan yang kulihat beberapa waktu lalu saat sebelum Sam meninggal, tamat sudah riwayatku.






Selesai
Kuningan,20/08/2018





Thursday, 13 August 2015

Beri aku maaf

Beri Aku MaafBy : Irma putri syaepudin

"Dengarkan penjelasanku Lisa! Aku mohon ...." Wahyu menarik pergelangan tangan Lisa, kekasihnya. Wajah putih Lisa seperti besi yang dibakar merah menahan amarah, Wahyu bersimpuh di hadapan Lisa memohon maaf dan berharap hati perempuan 25 tahun itu luluh.

"Lepaskan tanganku! Aku muak mendengar semua kata-kata yangkeluar dari mulutmu, Wahyu! "

 jerit Lisa sambil mencoba melepaskan diri dari genggaman tangan Wahyu. Wahyu bingung harus bagaimana lagi menjelaskan semuanya pada Lisa, dia tidaktahu jika menerima ajakan Mala untuk makan siang bersama membuat kekasihnya semurka ini, padahal Mala hanya mantan pacarnya dan Wahyu sudah tidak memiliki perasaan apapun padaMala. 

Hatinya, cintanya, bahkan nyawanya ia rela berikan demi Lisa."Lisa, kami hanya makan siang bersama, tidak lebih. Kamu kan tau pacarku sekarang ya kamu, lagipula sebentar lagi Mala akan menikah, " ujar Wahyu. Dengan sekuat tenaga Lisa melepaskan tangannya dari Wahyu, matanya tajam menatap sang kekasih."Dengar! Aku tidak mau lagi mendengar alasan apapun dari kamu!Aku capek, aku lelah, ternyata benar omongan teman - temanku. Kau masih berharap pada Mala, bukannya kita sudah berkomitmen tidak akan saling menemui mantan masing - masing? Kamu lupa komitmen kita?! Mulai detik ini jangan pernahhubungi aku lagi, kita putus! " Lisa meninggalkan Wahyu yang tertegun dan tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk meyakinkan Lisa, harusnya dia ingat komitmen yang mereka buat, harusnya Wahyu tahu jika Lisa pencemburu. Langit biru mendadak mendung, disertai angin kencang dan gemuruhnya petir, hati Wahyu sekarang remuk redam tidak berbentuk.

***

Awal bulan November, terasa sesak bagi Lisa. Ia menatap keluar jendela membiarkan tetes hujan menerpa wajahnya, sudah sebulan sejak pertengkarannyadengan Wahyu. Lisa pergi meninggalkan Wahyu dan juga kota Jakarta, ia pun tidak berpamitan pada Wahyu kalau dia akan pergi ke Palembang, dia hanya berpesan pada ibunya jika Wahyu datang jangan pernah mencari dimana dirinya. Lisa menonaktifkan segala hal yang berhubungan dengan komunikasi, telepon genggamnya terletak begitu saja tidak pernah ia sentuh. Arman, paman Lisa hanya bisa pasrah melihat kegalauan keponakannya itu, dia tidak tahu harus berbuat apa. Malam itu sepi, Arman beserta istrinya pergi ke rumah mertuanya yang lumayan jauh dari kediaman mereka. Tinggalah Lisa sendiri di rumah, Lisa tengah menonton televisi di ruang tengah, matanya enggan terpejam, pikirannya melayang ingat pada Wahyu. Air mata menetes dari kedua pipinya yang putih , sejak putus dengan Wahyu hari - harinya terasa penat. Tidak ada lagi senyum dan canda tawa, biasanya Wahyu meneleponya dan membuatnya tertawa. Suara ketukan pintu menginterupsi lamunanya, membuat Lisa terkejut dan segera membuka pintu melihat siapa orang yang bertamu tengah malam di cuaca buruk seperti itu. Pamannya bukankah ingin bermalam dirumah mertua? Tapi bisa saja pamannya pulang lebih awal, akhirnya Lisa membuka pintu yang sejak tadi diketuk, Lisa terkejutmelihat sosok di hadapanya. Wahyu dengan wajah pucat pasi, rambut dan wajahnya basah kuyup, di luar hujan turun begitu derasnya. Wahyu tersenyum, senyum hangat yang selama ini Lisarindukan.

"Ka - kamu kenapa bisa ada di sini? Kapan kamu datang? " ujar Lisa terbata. Wahyu tersenyum lagi lalu menggenggam kedua tangan Lisa. Menatap matanya yang sembab, Wahyu mengelus rambut kekasihnya."Maafkan aku, maaf Lisa sayang. Aku bodoh dan brengsek! Harusnya aku ingat komitmen kita, aku melukai perasaanmu Lisa," ujar Wahyu meneteskan air mata. Lisa terenyuh dengan perkataan Wahyu. Wahyu tidak selamanya salah, dia pun salah egois. Padahal itu hanya masalah sepele tidak perlu mereka putus lalu saling menyalahkan satu sama lain. Lisa memeluk kekasihnya, tubuh Wahyu sedingin es. Lisa menangis dan meminta maaf pada Wahyu, ia merasa bersalah pada kekasihnya itu. Tidak seharusnya seperti ini, "Aku juga minta maaf, aku egois. Maaf ... Maafkan aku Wahyu, " ujar Lisa."Terima kasih, Lisa ...." bisik Wahyu, lalu entah mengapa kepala Lisa terasa berdenyut, dunia terasa berputar tubuhnya terasa berat. Matanya berkunang - kunang, lalu semuanya terasa gelap. Nafasnya tersengal, denyut jantungnya terasa berhenti.

***

"Lisa, bangun sayang! Bangun Nak, ""Lisa, bangun Lisa, "Lisa mengerjapkan matanya beberapa kali, pertama kali dilihatnya wajah sang ibu dan pamanya. Tidak ada Wahyu hanya Ibu dan Pamanya yang menatap cemas."Bu, mana Wahyu? " tanya Lisa. Alih - alih menjawab ibunya malah menangis tersedu, Lisa bingung kenapa ibunya menangis? Dan kapan ibunya datang ke Palembang?"Sabar ya Nak, ini sudah kehendak Tuhan. Ibu harap kamu melepaskan Wahyu, mengikhlaskan kepergian Wahyu, " ujar ibunya. Lisa bertambah bingung, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa? Ada apa dengan Wahyu?"Apa maksudnya?" tanya Lisa."Lisa, Wahyu sudah pergi. Ia meninggal dunia dalam kecelakaan pesawat dua hari lalu, dia mau menyusul kamu kesini, tapi sayangpesawatnya menabrak awan Cumulonimbus, Paman kemarin menemukan kamu pingsan di depan pintu. Paman pikir itu karena kamu terlalu kaget mendengar berita tentang Wahyu, kamu pingsan sudah 2 hari, " ujar Arman. Seketika tubuh Lisa terasa lemas, wajahnya memucat, tidak percaya pada kabar yang disampaikan Pamanya. Lisa bergetar, bibirnya terasa kelu dan matanya sudah tidak bisa lagi membendung air mata yang sejak tadi mendesak ingin tumpah. Lisa menangis sekencang - kencangnya, ia menyesal memutuskan Wahyu , meninggalkan Wahyu."Jadi, Wahyu meninggal dua hari lalu, tapi paman, semalam dia datang padaku meminta maaf, " ujar Lisa.

"Tidak mungkin, Lisa. Wahyu meninggal dunia dua hari lalu, semalam tidak ada siapa pun yang datang, dan dari kemarin kamu pingsan baru sadar sekarang, " ujar Arman. Lisa menutup mulutnya ketika pandangan matanya bersirobok dengan seseorang yang berdiri tersenyum di pojok kamarnya. Seseorang yang semalam meminta maaf , seseorang yang ia putuskan dan tinggalkan karena ia cemburu buta.


Pahlawan tanpa nama

Parade puisi (spesial hari kemerdekaan )

Pahlawan tanpa nama

By " Irma putri syaepudin

Di sebuah hutan belantara

Di sebuah hutan belantara
Tergantung kerangka tanpa nyawa
Bagai layang - layang yang lepas dari benangnya
Terasing dari seluruh penjuru dunia

Topi baja yang dulu gagah perkasa
Baju loreng dan tanda kehormatannya
Senapan yang dulu ditakuti para musuhnya
Kini hilang  di telan rimba

Wahai pahlawan tak bernama
Pada siapa kau meminta doa
Tinggalkan anak istri serta saudara
Demi membela tanah air tercinta

Wahai pahlawan tanpa nama
Jasamu seolah terlupa
Darah yang kau tumpahkan untuk negara
Kini seolah tiada artinya

Wahai pahlawan tanpa nama
Entah sampai kapan kau disana
Tergantung menunggu bertahun lamanya
Di sebuah hutan belantara
Sedangkan mereka yang berdosa
Menghilangkan namamu dari daftar pahlawan negara


Wahai pahlawan tanpa nama
Kapan negara ini benar - benar merdeka
Kemerdekaan bangsa hanyalah fatamorgana
Kiasan kata para pujangga
Mereka yang berdosa berjaya
Sedangkan dirimu yang berjasa terlupa







Kuningan, 14 Agustus 2015


Wednesday, 12 August 2015

Cara cepat mendapat dolar mudah dan enggak ribet

[WHAFF]
Irma Putri Syaefudin WHAFF sudah mengundang Anda ke WHAFF Imbalan!

Download WHAFF Imbalan,
masukkan kode undangan : [ BS11469 ] dan dapatkan $0,30!!!
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.whaff.whaffapp


Tuesday, 11 August 2015

Clash of king

Parade cerita fantasi

Clash of King (sleep paralyzed )

By : Irma putri syaepudin

Bosan, terbaring di kamar sendiri, ingat kata-kata dokter kemarin, "Anda harus Bed tres. Istirahat total, jangan terlalu memaksakan diri untuk bekerja, sampai down seperti ini. Trombosit anda belum normal, saya harap anda menghargai kesehatan diri sendiri, " ucap dokter Nandang yang juga teman sekolahku. Mungkin hanya aku orang yang tidak sukses, saat teman - temanku sukses menjadi dokter, guru, bahkan pengusaha aku masih betah menjadi penulis yang penghasilannya tidak sebesar mereka. Kadang aku berandai - andai, jika saja aku raja punya kastil megah seperti kerajaan raja Sulaiman di film favoritku abad kejayaan. Tunggu!  Tentu saja aku punya kastil mewah dan megah, prajurit andalan, penempa besi handal, sawah yang menghasilkan padi setiap menit, lalu pengrajin kayu yang siap menghasilkan sumber kayu melimpah untuk diperdagangkan. Belum lagi mata air permohonan yang mengabulkan setiap permintaan, pundi - pundi uang koin dan juga berlian, aku punya semua itu. Aku tertawa kecil dan mengambil tablet berwarna putih dari atas lemari, segera kucari aplikasi game favoritku Clash of King. Tidak biasanya cepat sekali koneksi internet di kamar, biasanya susah butuh waktu berjam -jam hanya untuk membuka satu aplikasi game online saja.

SELAMAT DATANG RAJAKU, SILAHKAN TEKAN TOMBOL MERAH UNTUK MASUK KE KERAJAAN ANDA

Tidak seperti biasanya, kenapa ada tulisan seperti ini, apa aplikasi game online ini sedang mengalami gangguan. Tapi sepertinya tidak, disana -- di layar tabletku masih terpampang jelas Athena, dia adalah pemanduku, asistenku dalam memainkan game ini. Akhirnya aku menekan tombol merah seperti petunjuk Athena. Tiba-tiba layar tablet di hadapanku bersinar terang, mataku silau karenanya. Setelah sinar itu menghilang, munculah sebuah lubang hitam berputar seperti gulungan topan. Badanku mendadak seperti tersedot magnet raksasa, aku berteriak meminta tolong. Berharap ibu atau ayah atau nenek datang menolongku, tapi sia - sia saja badanku tersedot masuk ke dalam lubang hitam yang terbentuk di layar tablet.

***
Aku membuka mata, membiarkan bola mataku terbiasa dengan sinar matahari yang masuk melalui celah tirai berwarna merah bersulam benang emas. Kasur yang empuk dengan seprai berwarna merah bertahta berlian, tunggu! Sepertinya ini bukan kamarku, kamarku tidak semewah ini. Lalu dimana sekarang aku berada?

    "Anda sudah bangun rajaku? " tanya seseorang, seorang gadis cantik berambut perak, dengan gaun putih dengan belahan dada terbuka, ia membawa sebuah buku catatan besar di tangannya, kenapa dia mirip sekali dengan  ....

"Athena? Kau Athena? " tanyaku. Dia tersenyum lalu membungkuk hormat, aku turun dari ranjang king size mewah tadi, merasa kaget, gugup, merasa konyol. Aku mencubit pipi sendiri rasanya sakit, berarti bukan mimpi. Lalu bagaimana caranya aku berada di kamar mewah ini?

"Rajaku, apakah anda ingin mandi atau sarapan? Para dayang akan mempersiapkan, " tanya Athena. Aku bingung lalu dengan sekenannya menjawab, "Mandi saja, sepertinya kepalaku harus diguyur air biar sadar, " ujarku. Athena berlalu dari hadapanku, lalu tidak berapa lama kemudian dia kembali dengan beberapa pelayan perempuan. Aku masuk ke sebuah kamar mandi besar dan juga mewah, air hangat membasahi badan yang terasa remuk. Rasanya damai, para pelayan memijat pundak dan kepalaku, belum pernah aku merasa sesenang ini. Aroma lavender menguar dari lilin yang berjejer di samping bathub. Setelah selesai para pelayan membawakan sebuah baju untukku, baju mewah bertahta berlian dan permata. Mirip baju perang namun sangat indah. Jubah kebesaran berwarna merah, rambut panjangku terurai dan di atasnya berdiri sebuah tiara cantik bertaburan batu berlian berwarna merah.

"Princess Edelweis, apakah anda sudah siap bertemu raja dari kastil ORz. Dari kemarin beliau ingin bertemu anda, bukankah kerajaan kita sudah beraliansi dengan kerajaan ORz," ujar Athena. Meskipun kebingungan masih melanda, namun akhirnya aku bersedia menemui ORz, aku berjalan menuju aula kerajaan. Para pelayan dan Athena mengiringi langkahku, lalu para prajurit membungkuk memberikan hormat.

"Princess Edelweis tiba, semuanya berdiri! " ujar salah satu prajurit andalan. Semua orang yang ada di aula berdiri lalu membungkuk hormat, ah benar - benar impianku selama ini. Aku duduk di sebuah singgasana mewah, para pelayan dan Athena berdiri di sampingku. Lalu para tamu duduk kembali, aku tersenyum hangat pada semua orang di aula. Rasanya seperti mimpi tapi berapa kalipun aku mencubit pipi ini realita bukan mimpi, di hadapanku seorang raja berparas tampan duduk dengan gagah, rambut cokelatnya, lalu badannya yang tegap dan berwibawa. Benar - benar sempurna untuk seorang raja.

"Princess Edelweis, langsung saja. Aku ORz ingin membicarakan masalah penting denganmu, masalah serius dan harus dibicarakan rahasia, " ujarnya. Aku mengerti lalu mengajaknya berbicara di ruang pribadiku. Kami membicarakan tentang perang antar aliansi, sepertinya ada aliansi lain yang menginginkan keruntuhan kastilku. Mata - mata ORz mengetahuinya. Aku seperti lupa, dan terhanyut dengan peranku sebagai raja, sebagai Princess Edelweis. Padahal aku tadi merasa asing dan ingin pulang. ORz adalah ketua dari ONE. Sebuah aliansi kerajaan, aku ikut bergabung menjadi anggotanya bersama teman yang lain, aku tidak menyangka ORz itu orang tampan. Padahal setiap hari aku mengobrol dengannya di chat saat bermain game online. Aku sepertinya lupa dan terlarut dengan permainan ini. Kerajaanku akan diserang oleh ANx , dia sangat membenci kerajaanku. Lalu ORz berniat membantuku melawan ANx, kami berbicara banyak, sesekali kami berbicara pribadi, lalu tertawa bersama.

***
Hari yang ditentukan tiba, ANx akan menyerang kerajaanku. Aku bersiap untuk berperang dengan panah terbaikku dan para prajurit andalan serta terlatih.

"Kenapa harus perang? Bagaimana jika kalah habis sudah kerajaanku, menyebalkan baru saja enak jadi raja, " keluhku.

"Mari Rajaku, semua sudah siap di pintu gerbang, " ujar Athena, benar saja di depan gerbang kerajaan berdiri gagah ORz dengan baju jirahnya.

"Kenapa begitu baik ingin membantuku? " ujarku, dia hanya tersenyum hangat, "Ini sudah kewajibanku sebagai pimpinan aliansi ONE untuk membantu perang setiap anggota kerajaan. " tatapanya begitu penuh semangat, entah kenapa hatiku merasa berbunga bunga.


Tidak perlu waktu lama ANx dan rombongannya tiba, lalu dengan sekali perintah semua prajuritnya menyerang kerajaanku. Aku dan prajuritku tidak tinggal diam begitu pun ORz, bersama kami melawan musuh bebuyutan kami. Meskipun pasukanku terlatih dan banyak namun, pasukan ANx lebih banyak. Para prajurit terluka bahkan tewas, mayat bergelimpangan, darah berceceran. Kerajaan menjadi lautan api, aku sendiri terluka, terkena panah bagian dadaku sebelah kanan. Aku mencari ORz, namun entah kemana dia, perih rasanya lukaku.

"Mau kemana kau! " ANx berdiri di belakangku, mengacungkan pedangnya yang berlumuran darah.

"Ingat ini kepala siapa hah?!" ujarnya sambil mengangkat sebuah kepala manusia berlumur darah, itu kepala ORz. Seketika amarahku meluap, padahal baru saja aku mengenal ORz, dia hangat dan menyenangkan. Aku membentangkan panah dengan susah payah, bermaksud membunuh ANx. Namun, upayaku gagal pedangnya terlebih dahulu menikam perutku. Darah mengucur bau amis menyeruak, rasa sakit dan perih terasa di perutku, aku jatuh ke tanah kepalaku serasa berputar, mataku terasa berkunang -kunang. Tubuhku terasa terangkat lalu terbanting keras, lalu terangkat kembali dan terperosok dalam sebuah lubang hitam raksasa.


***
"Oyyy Bangun! Siang masih molor juga tablet loe nyala tuh dari semalaman! " aku terperanjat, abangku berkacak pinggang sambil membawa gayung air. Siap -siap menyiram wajahku, aku segera bangun dengan kesal, "Apaan sih abang! " ujarku,

"Udeh loe bangun sana, mandi! Males banget deh kan loe cewek! Main game online ya loe sampai larut lagi, kan dokter bilang loe harus istirahat, " abangku ngomel sendirian sambil membanting pintu kamar. Aku menghela napas panjang, kenapa mimpiku terasa nyata. Aku menatap layar tablet yang menyala, disana terlihat seperti ada sebuah pesan masuk. Aku langsung membukanya, "Apaan nih? " ujarku.

KASTIL ANDA TELAH DISERANG OLEH ANX DAN ANDA KALAH!
Kulihat kastilku terbakar habis.


THE END
Kuningan, 11 Agustus 2015


Sunday, 9 August 2015

Perempuan bergaun merah

Parade horor flashfiction

Perempuan bergaun merah

By : Irma putri syaepudin

Malam Minggu  , malam sakral untuk para muda -mudi yang dimabuk asmara. Waktunya mengunjungi pacar tercinta, dan untuk para jomblo malam Minggu adalah malam yang paling menyebalkan. Andri patah hati karena wanita yang ditaksir olehnya malah jadian dengan sahabatnya sendiri, jadilah Andri luntang lantung enggak jelas. Kebetulan ada acara kenduri di kampung sebelah. Biasanya sering diadakan pesta minum tuak, akhirnya Andri berangkat sendirian menuju kampung sebelah, berharap bisa ikut berpesta tuak malam itu. Andri melewati jembatan yang terkenal angker, orang - orang sering membicarakan jembatan itu sebagai jalur kematian. Banyak kendaraan sering terjatuh bahkan tiba-tiba sering terjadi orang bunuh diri loncat ke jurang di bawah jembatan. Konon katanya, dahulu ada seorang gadis cantik yang bunuh diri di sana, ia patah hati diputuskan pacarnya yang menghamili orang lain. Andri sering mendengar kabar arwah gadis itu mengganggu para pengguna jalan. Namun, karena suasana hatinya sedang resah, Andri memilih mengabaikan rasa takutnya.

"Mau kemana Bang? " tanya seseorang, Andri menoleh matanya terhipnotis oleh kecantikan gadis bergaun merah di hadapannya. Gadis cantik itu tersenyum lembut pada Andri, Andri bersumpah gadis di hadapannya adalah bidadari yang turun dari langit untuknya yang sedang patah hati.

"Mau ke kampung sebelah lihat kenduri? Adik ini siapa? Darimana? Dan mau kemana? Ini sudah larut malam? " tanya Andri, sebenarnya dia hanya berpura pura bertanya sekedar basa basi. Andri berpikir gadis bergaun merah itu seorang kupu-kupu malam , Andri langsung mengajaknya mengobrol. Ternyata gadis itu mengasyikkan, namanya Salimah. Andri merasa nyaman dengan Salimah, tadinya ia berpikir Salimah gadis malam, ternyata dia juga sekampung dengannya. Salimah mengaku keponakannya Pak Abdul. Malam semakin larut, Salimah meminta Andri mengantarkan pulang ke rumahnya. Andri dengan senang hati mengantar Salimah ke depan pintu rumah Pak Abdul, jarak antara rumahnya dan rumah Pak Abdul tidak begitu jauh, hanya saja Pak Abdul jarang di rumah karena berdagang di pasar. Andri tidak tahu Pak Abdul punya keponakan secantik Salimah.

"Makasih ya Bang, sudah mengantar Limah pulang. Ini buat Abang kenang - kenangan, " Salimah memberikan Andri sebuah saputangan berwarna merah.


***
Esok paginya, Andri berbahagia. Ia bermaksud ke rumah Pak Abdul untuk bertemu Salimah si gadis cantik bergaun merah yang membuat hatinya berbunga. Andri sampai di rumah Pak Abdul, kebetulan Pak Abdul dan istrinya ada di rumah. Andri langsung mengucapkan salam. Tidak berapa lama Pak Abdul dan istrinya datang membuka pintu dengan wajah ramah.

"Maaf, permisi Pak Abdul saya Andri. Tidak jauh rumah saya dari sini, saya ingin bertemu Salimah, keponakan Pak Abdul. Semalam saya mengantarkan pulang ke sini, " ujar Andri membuat istri Pak Abdul pingsan seketika. Andri merasa heran mengapa istri Pak Abdul sekaget itu.

Ternyata Salimah adalah gadis yang bunuh diri di jembatan, ia memang keponakan Pak Abdul, malah Pak Abdul yang tidak mempunyai anak sudah menganggap Salimah putrinya sendiri. Andri kaget dan merasa tidak percaya, "Tapi semalam dia memberikan saya sebuah saputangan Pak, " ujar Andri. Ia mengeluarkan saputangan pemberian Salimah, betapa kagetnya ia saputangan berwarna merah itu berubah menjadi daun kering. Andri shock berat dan tidak sadarkan diri, Pak Abdul meminta maaf pada Andri dan keluarganya, semenjak kejadian itu Andri tidak berani lagi melewati jembatan itu sendirian terlebih malam hari.


Bidadari sayap hitam

Parade cerpen bebas
Bidadari bersayap hitam

By : Irma putri syaepudin aka kelelawar absurd

.......


Masa lalu datang untuk menghancurkan, jadi sebelum dia datang hancurkan! Bunuh! Kita hidup seperti rantai makanan, jadi sang kelinci lemah atau seorang predator.

Ini tahun ke-3 pernikahan kami, dan kami baik -baik saja sama seperti pasangan lain. Meskipun, kami belum sempurna. Yah, kami belum diberikan kepercayaan oleh Tuhan untuk menimang momongan. Tetapi, aku dan dia sepakat untuk tidak membahas masalah ini dan membiarkan takdir Tuhan yang berjalan, mengatur semuanya. Tetapi ada satu hal yang terus mengganjal pikiranku, mantan! Ya mantanku dan mantan pacar suamiku, mereka ancaman bagiku, mereka bisa menghancurkan pernikahan kami, mereka noktah merah untuk perkawinan kami. Aku takut kehilangan orang yang kucintai, aku tahu mertua lebih menyukai Ayu Wardhani, guru SD yang pernah dijodohkan dengan suamiku, namun akhirnya gagal saat suamiku memilih menikah denganku. Lalu Hanafi yang terus meneror enggan melepaskan cintanya padaku, meskipun aku menikah, aku takut sangat takut bila kebahagiaan saat ini terenggut begitu saja, sia - sia  kupertahankan.

   "Besok ada Reuni sekolah, kamu mau ikut? " tanyanya padaku saat merapihkan dasinya. Aku menggeleng pelan sambil tersenyum, "Tidak usah, pergilah sendirian, pasti kangen dengan masa lalumu, " dia mencium dahiku lalu berpamitan dan saat itu aku menatap kepergianya dengan senyuman penuh arti, "Masa lalu ya? Hm ...."


Reuni sekolah berlangsung lancar, semua tamu undangan hadir, saling melepaskan kangen dengan sahabat lama, begitu pun dengan Ayu Wardhani, ia datang dan bertemu mantan pacarnya yang kini notabene suami orang, Ayu tahu dan Ayu mengerti, dia pun sudah menikah dan memiliki anak, dia hanya menganggap mantan pacarnya teman biasa, meskipun sudah tidak berhubungan namun tali silaturrahmi tetap terjalin. Sayangnya Ayu Wardhani tidak tahu, malaikat maut mengintainya.

   "Bagaimana kabar istrimu? " tanyanya.

"Baik, dia baik -baik saja, hanya saja Tuhan menguji kami, kami belum diberikan kepercayaan untuk mempunyai momongan, " ujar Hendra.

"Tidak apa, jangan putus asa, aku selalu berdoa yang terbaik untuk istrimu dan kamu, " ucap Ayu sambil tersenyum.

"Aku ke toilet dulu ya, " Ayu berpamitan pada Hendra untuk pergi ke toilet, Ayu masuk ke dalam toilet bertuliskan 'Female ' itu. Ia menyisir rambut dan menata make up nya, "Merasa cantik? Hingga ingin kembali pada Mas Hendra? " ujar seseorang di belakang Ayu Wardhani, seringai iblis terpampang di wajahnya.

"Laras? Kenapa bisa ada disini? Dan apa maksudnya? Aku hanya mengobrol biasa dengan suamimu, tidak ada alasan lain, " ujar Ayu Wardhani.

"Halah bohong! Masa lalu itu datang untuk menghancurkan, jadi sebelum kau menghancurkan pernikahan kami , aku yang terlebih dahulu menghancurkan kamu!" Laras dengan cepat menjambak rambut panjang Ayu Wardhani dan mencekik dia dari belakang dengan seutas kabel, Ayu Wardhani meronta berusaha melepaskan diri, namun murka laras lebih kuat dari tenaganya. Ayu Wardhani terbatuk, nafasnya tersengal lalu melemah, matanya melotot dengan lidah menjulur keluar, Laras tersenyum penuh kemenangan.


Aku bahagia , masa lalu itu sudah hancur sebelum menghancurkanku, tinggal satu halangan lagi, dan aku harus segera memusnahkannya. Kenapa? Kenapa diriku begitu pendendam? Karena aku merasa Tuhan tidak adil, Tuhan itu jahat padaku!

"Coba dulu Hendra menikah dengan Ayu Wardhani , pasti hidupnya bahagia, lalu kita segera menimang cucu. " Itu yang kudengar dari ibu mertua, sakit! Hati ini seperti tersayat silet, lalu kemudian remuk tidak berbentuk.

"Coba saja kau menikah denganku! Pasti hidupmu lebih baik dari sekarang, Laras, " ucapan Hanafi membuat api dalam jiwaku bergolak seperti kuali panas, bahagia katanya? Playboy seperti dia mana mungkin bisa membuat aku tersenyum setiap saat seperti apa yang Mas Hendra berikan. Aku kesal dengan dunia yang kejam padaku, terlalu banyak penderitaan yang aku lalui, hinaan, makian, Mas Hendra sayang aku akhiri saja semuanya, aku akhiri saja!



Hanafi tengah duduk di hadapan Laras, wanita -- mantan pacarnya, yang kini telah jadi istri orang lain. Hanafi masih mencintainya, namun Laras sudah tidak ingin mengenalnya, Hanafi tahu diri, dia tidak mungkin bisa mendapatkan cinta Laras kembali. Tetapi, Hanafi hanya ingin tahu seberapa besar cinta Laras pada Hendra, lalu Laras mengajaknya bertemu lagi dan mengajaknya kembali, "Kau benar, lebih baik aku bersamamu, " ujar Laras,  Hanafi kaget namun berusaha terlihat tenang.

"Akhirnya kamu sadar, kalau aku satu satunya lelaki sejati untukmu, " ujar Hanafi, hatinya merasa cemas. Laras memeluknya dari belakang, pelukan lembut saat seperti dulu, "Suamiku sedang pergi ke luar kota, kita bisa bersenang - senang di Villa ini bisiknya menggoda, Hanafi terpancing mengikuti lekuk tubuh Laras yang memanggilnya masuk ke dalam kamar, dia tidak tahu, masuk dalam jebakan maut Laras. Gemericik air membuat Hanafi berpikir Laras berada di kamar mandi. Namun dengan cepat ditepisnya pemikiran itu, saat melihat pantulan tubuh Laras di cermin besar di hadapannya, tatapan mata yang tajam penuh dengan api amarah, Hanafi bergidik ngeri melihat Laras, namun keterkejutannya tidak hanya sampai disitu, dengan cepat Laras menerjang, memukulnya dengan tongkat baseball, Hanafi terhunyung menabrak cermin di hadapannya, Hanafi berusaha melawan Laras. Namun setan yang menguasai pikiran mantan pacarnya itu lebih kuat dari apa pun, Hanafi berlari berusaha melepaskan diri, namun darah yang keluar dari dahinya membuat tubuhnya lemas, Hanafi terjatuh dan jadi sasaran empuk kesadisan Laras.



Aku senang, aku bahagia masa lalu itu sudah enyah, sudah lenyap dari hadapanku. Tetapi, mengapa kini malah kebahagiaanku harus terenggut paksa, aku harus berdiam menyepi dalam rantai kepekatan, terkurung dosa yang tiada pernah berhenti menaungi hari -hariku, Hanafi mati, Ayu Wardhani mati, lalu Mas Hendra tersayang menundukkan kepala kecewa, hatinya terluka karena aku yang kalap dan melakukan dosa, cintanya hancur oleh bidadari yang bersayap hitam. Aku disini sendiri kesepian dalam balik jeruji besi  ....


Kuningan, 27/07/15